Kerajinan dari Sumedang yang Masih Bertahan di Tengah Modernisasi

Sumedang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang terdiri dari 26 Kecamatan, 7 Kelurahan dan 270 Desa. Sebagian besar wilayah Sumedang  didominasi oleh pegunungan dan sebagian kecil wilayah dataran rendah.

Keadaan alam yang masih terjaga menjadikan Kabupaten Sumedang memiliki berbagai kekayaan alam dan potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Seperti obyek wisata Situ Cilembang yang berada di Desa Hariang, Kecamatan Buah Dua dan Curug Gorobog di Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan yang menjadi serbuan wisatawan akhir-akhir ini.

Selain dari sektor wisata, kabupaten yang terletak di sebelah barat Kota Bandung ini juga dikenal dengan julukan kota tahu. Dimana Tahu Sumedang merupakan makanan khas Sumedang yang 
sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih eksis dan digemari oleh masyarakat sampai saat ini.

Namun selain tahu Sumedang yang menjadi icon kabupaten ini, sebenarnya masih banyak makanan khas Sumedang yang cukup terkenal di wilayah Jawa Barat, seperti olahan dari ubi cilembu, soto bangko, tutug oncom, oncom, opak ketan, tape singkong dan makanan lain khas Sumedang yang pastinya siap memanjakan lidah.

Tidak hanya itu, selain berbagai olahan makanan dan obyek wisata, Kabupaten Sumedang juga mempunyai banyak pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya adalah pengrajin yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Sumedang yang sudah ada sejak puluhan hingga ratusan tahun yang lalu dan diwariskan secara turun temurun.

Ukiran dan kerajinan kayu Desa Cipacing dan Cibeusi

Sumber gambar https://finance.detik.com/
Kerajinan pertama adalah ukiran dan kerajinan kayu yang terdapat di Desa Cipacing dan Cibeusi. Sentra kerajinan ini bisa dibilang paling tua di tanah Sunda, yaitu sudah berdiri sejak tahun 1970.  

Namun sentra kerajinan ini baru populer dan dikenal masyarakat luas sekitar tahun 1990-an yaitu ketika para pengrajin dari Desa Cipacing mendapat pelatihan dari Tanti Supiarno seorang mantan DPR  tahun 1992 untuk membuat dan mengembangkan berbagai kerajinan kayu.

Pada saat itu para pengrajin Desa Cipacing diajarkan untuk membuat berbagai kerajinan yang berasal dari kayu, mulai dari aneka patung sampai alat musik yang berasal dari luar negeri. Tidak mengherankan jika sejak saat itu para pengrajin bisa membuat berbagai kerajinan dengan kualitas terbaik.

Hingga saat ini beragam produk ukiran dan kerajinan kayu masih diproduksi, mulai dari aneka souvenir, topeng, patung, rebana, marawis, wayang golek, gendang, busur panah, perkakas rumah tangga. Hingga berbagai kesenian khas Sunda seperti  kendang jaipong, angklung arumba dan kecapi.

Selain memproduksi beberapa kerajinan diatas, para pengrajin di Desa Cipacing juga memproduksi beberapa kerajinan yang berasal dari luar tanah Sunda, bahkan luar negeri, seperti ukiran suku Dayak, patung suku Asmat, serta kerajinan internasional seperti  boomerang, jimbe, dan didgeridoo yang merupakan kerajinan khas Aborigin Australia.

Ada ciri khas dari kerajinan yang dibuat para pengrajin Desa Cipacing, yaitu terdapat sebuah tambahan ukiran pada bagian kerajinan berupa lukisan titik-titik cat yang mempunyai warna kontras dan terang.

Untuk membuat berbagi kerajinan diatas para pengrajin Desa Cipacing menggunakan bahan kayu Mahoni dan Albasia. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat berbagai kerajinan tersebut para pengrajin setidaknya membuatuhkan waktu 2 hari atau lebih, tergantung pada kerumitan kerajinan yang dikerjakan.

Salah satu pengrajin yang masih bertahan sampai saat ini adalah Hendri Sanjaya, seorang pemuda asal Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor. Hendri sudah menekuni karir seni ukir kayu mulai dari tahun 2007 lalu. Pada saat itu Hendri memulai membuat patung berukuran besar bersama pamanya.

Pada tahun 2010 dia mencoba sesuatu yang baru, yaitu dia memulai untuk membuat patung berukuran mini, karena dia merasa bahwa pengrajin hanya membuat patung dengan ukuran besar. 

Patung mini yang dibuatnya merupakan salah satu kerajinan terunik yang berada di Jatinangor, yaitu berukuran mulai dari 2 mm hingga 2 cm. 



Pada ada awalnya Hendri membuat patung mini tidak bertujuan untuk dijual, melainkan saat itu hanya untuk koleksi pameran. Namun seiring berjalanya waktu karena bentuknya yang unik dan langka membuat banyak seniman banyak yang tertarik dari kerajinan yang dibuatnya.

Saat ini karya kerajinan patung mini Hendri tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan beberapa daerah lainya. Tidak hanya itu, Hendri juga kerap kali menerima pesanan dari rekanya yang  berada di Jepang.

Senapan angin Desa Cipacing, Kecamatan Jatinagor

Sumber gambar https://www.suara.com/
Selain kerajinan dan ukiran kayu Kabupaten Sumedang juga mempunyai pengrajin senapan angin yang berada di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinagor, Jawa Barat. 

Dari refrensi yang saya temukan bahwa industri kerajinan membuat senapan angin di Desa Cipacing sudah dijalankan secara turun temurun dan sudah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Yaitu pertama kali dirintis oleh Raden Nata Dimadja pada tahun 1854 silam.

Pada tahun 1960-an terdapat catatan resmi generasi Raden Nata Dimadja di Desa Cipacing dan Cikeruh terdapat pengrajin senapan angin, walaupun saat itu masih bisa dihitung dengan jari. 

Saat itu masyarakat Desa Cipacing belum memproduksi senapan angin sendiri, melainkan hanya memperbaiki senapan angin yang berasal dari luar negeri.


Namun di tahun 1960-an berbekal dengan pengetahuan tentang memperbaiki senapan angin yang berasal dari luar negeri, serta melihat peluang usaha yang menjanjikan, masyarakat Desa Cipacing dan Cikeruh termotivasi untuk membuat dan mendirikan usahanya sendiri, meskipun saat itu pengrajin senapan angin masih bisa hanya beberapa.

Seiring berjalanya waktu, yaitu pada tahun 1970-an sampai tahun 1990-an merupakan puncak dari produksi senapan angin, yaitu terdapat setidaknya 300 pengrajin senapan angin. Saat itu produksi senapan angin di Desa Cipacing terbilang cukup menjanjikan, karena produksi senapan angin tidak hanya berhasil menembus pasar di pulau Jawa saja, melainkan bisa menjangkau ke berbagai wilayah Indonesia.

Namun penjualan itu mengalami sedikit guncangan setalah terjadinya krisis moneter serta isu terorisme yang menyebabkan banyak pengrajin dan pedagang harus gulung tikar. Karena pada tahun 1998 banyak konflik di berbagai wilayah Indonesia seperti di wilayah Poso, Aceh, Maluku, Sumatera, Jakarta dan beberapa wilayah lainya.  Dengan kata lain pada saat itu senjata tidak boleh diperdagangkan dengan bebas.

Namun tidak berhenti disini, para pengrajin senapan angin dari Desa Cipacing dan Cikeruh melakukan perundingan untuk membuat koperasi. Saat itu koperasi tersebut bernama Bina Bhakti Senapan Angin. Dengan berdirinya koperasi ini polri memberi perizinan untuk penjualan senjata. Dimana perizinan ini harus diperpanjang dalam setiap 5 tahun sekali. 

Koperasi inilah yang menyelamatkkan para pengrajin senapan angin pada saat itu, karena pada saat itu mengurus perizinan pembuatan senjata masih terbilang sangat sulit.

Hingga saat ini pengrajin senapan angin Desa Cipacing secara rutin melakukan koordinasi dengan polsek terdekat masih memproduksi kerajinan senapan angin. Berbagai jenis senapan angin mulai dari tipe pompa, tipe pegas, hingga yang termahal tipe PCP (Pre-Charged Pneumatic) bisa kita temukan ditempat ini. Saat ini Cipacing merupakan indrustri kerajinan senapan angin rumahan terbesar di Indonesia.


Industri mebel Desa Bongkok, Kecamatan Paseh

Sumber gambar http://sumedangtandang.com/
Desa Bongkok merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Paseh. selain yang menjadi ciri khasnya yaitu Salak Bongkok dan Salak Slebong, desa ini juga terkenal dengan industri pengrjin mebel di Kabupaten Sumedang.

Ditinjau dari sejarahnya pengrajin mebel ini awalnya berada di Desa Pasir Reungit, namun seiring berjalanya waktu masyarakat Desa Pasir Reungit beralih memilih menekuni usaha oncom, yang kini oncom sendiri merupakan makanan khas Desa Pasir Reungit.

Karena hal itu, terjadilah pergeseran yang awalnya pengrajin dari Desa Pasir Reungit beralih ke Desa Bangkok. Hingga saat ini industri mebel-mebelan tersebar di beberapa dusun di Desa Bongkok.

Mebel yang diproduksi dari desa ini berasal dari bahan kayu mahoni, kayu jati dan kayu tisuk. Saat ini pemasaran mebel Desa Bongkok  sudah tersebar ke daerah Jawa, bahkan hingga luar Jawa.

Pada tahun 2018 lalu pengrajin mebel di Desa Bongkok juga mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sebagai salah satu desa yang mempunyai potensi yang luar biasa, yaitu terdapat lebih dari 1
00 lebih pengrajin dalam satu kecamatan.


Wayang Golek Desa Rancakalong, Kecamatan Paseh

Sumber gambar http://sumedangtandang.com/
Wayang Golek merupakan wayang yang terbuat dari kayu yang menjadi salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang berasal dari Jawa Barat. Wayang golek sendiri merupakan perkembangan dari wayang kulit.

Pada awalnya wayang kulit merupakan wayang yang digunakan oleh Sunan Kudus untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kudus. Namun karena ketertarikan para ulama dan santri yang berasal dari Cirebon, akhirnya membawa ide tersebut ke Cirebon.

Saat ini dan pada umumnya wayang golek lebih dominan sebagai seni pertunjukan ketika ada hajat tertentu, seperti khitanan, pernikahan atau acara lainya. Namun tidak hanya itu, karena wayang golek merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan. Selain itu wayang golek menjadi salah satu media untuk penyampaian pesan yang sangat efektif Selain itu wayang golek juga bisa menjadi pembelajaran dengan tokoh- tokohnya yang bisa menjadi tauladan.

Seiring berjalanya waktu dan perkembangan zaman, wayang golek tidak hanya sebagai media pertunjukan, namun saat ini wayang golet juga bisa menjadi souvenir khas Sunda. 

Di Kabupaten Sumedang tepatnya di Desa Pamulihan terdapat sebuah sanggar wayang, yaitu Sanggar Sundari yang memproduksi berbagai kerajinan tangan wayang golek berkualitas, mulai dari kualitas biasa (mainan) hingga kualitas tinggi (wayang dalang). 


Sumber gambar http://sumedangtandang.com/
Wayang golek mainan bisa berupa wayang souvenir untuk ucapan terima kasih dan wayang ballpoint. Sedangkan wayang kualitas tinggi adalah untuk wayang dalang. Tidak hanya itu di Sanggar Sundari ini juga menyediakan berbagai macam ukiran, seperti topeng, asbak, patung, gantungan kunci dan golok ukir.

Bagaimana sudah tertarik untuk berkunjung ke Sumedang? mengunjungi beberapa wisata alam di Sumedang, menikmati berbagai makanan khas Sumedang, lalu pulang membawa kerajinan khas Sunda? 

Zaman boleh berubah, tapi kita tidak bisa begitu saja meninggalkan budaya lama yang semakin hari semakin ditinggalkan karena perubahan zaman. Menghargai karya bangsa yang sudah ada sejak dahulu, jangan sampai ciri khas yang bahkan sudah diakui sebagai karya seni khas Indonesia, diakui oleh bangsa lain.

Sebuah apresiasi untuk para pengrajin di Kabupaten Sumedang yang sudah bertahan selama ini dan tidak lekang oleh waktu.
 Karena selain untuk mendapat nilai ekonomis, para pengrajin di Kabupaten Sumedang juga mengaku bahwa alasan mereka tetap memilih menjadi pengrajin adalah mereka ingin melestarikan budaya Sunda dan sebagai bentuk perhatian mereka terhadap budaya Sunda.


Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Menulis Nasional, Writingthon Jelajahi Sumedang Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Bitread.

Sumber refrensi:

4 Komentar untuk "Kerajinan dari Sumedang yang Masih Bertahan di Tengah Modernisasi"

  1. Wah kak kris ikutan juga, tulisannya bagus. Semoga menang ya kak 😁

    BalasHapus
  2. Paling suka kalau pergi ke rumah saudara di Sumedang pulang bawa oleh2 Tahu Sumedang sama souvenirnya, tahunya enak dan souvenirnya bagus2 soalnya😍

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel